... dan Biarkan Air Mata Itu Menetes
Author: Abu Aufa
Menitik air mata, mengalir membasahi pipi. Jernih
bagaikan butiran embun pagi yang berkilauan diterpa
sinar mentari. Menghanyutkan rasa karena kedukaan,
hati pun menjadi lara akan kesedihan. Lalu mata
meluapkan derai tangisan, hingga tercipta nelangsa
yang luruh dalam kedukaan.
Air mata kadang bercerita akan indahnya kisah cinta
dan bahagia. Namun tak jarang tercurah dan hanyut
dalam sedu sedan penyesalan belaka. Karenanya, betapa
banyak untaian kisah yang tercipta dari tetesannya.
Air mata pun kadang menetes karena pelajaran akan
sebuah makna ketegaran jiwa.
Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki
dan tangan, darinya kita bisa belajar tentang makna
tegar dalam kehidupan. Ia mengisahkan dalam buku Gotan
Fumanzoku te ntang kesanggupannya menamatkan studi di
Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita
olahraga di televisi.
Ketegaran air mata pun pernah berkisah tentang Mitsuyo
Ohira dalam bukunya Dakara Anata mo Ikinuite. Ohira
san adalah seorang wanita yang menjadi sasaran
olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ia pernah
mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan
seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai,
namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan
kini menjadi pengacara.
Kisah-kisah itu menceritakan ketegaran yang menguras
air mata.
Air mata ibarat hujan yang jatuh dari langit pada
lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang.
Tetesannya melunakkan hati dan jiwa yang keras
membatu, lalu menciptakan rasa empati dan peka
terhadap ciptaan-Nya.
Kegersangan hati dan jiwa, serta qalbu yang merekah
karena berbagai nista perlahan pupus. Hanyut, bagaikan
debu-debu yang ter bawa arus oleh untaian do'a dalam
butir-butir air mata yang dimunajatkan kepada Sang
Pencipta.
Mahal...
Sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang
mengalir saat khusyuk menghadap-Nya. Hingga salah satu
dari dua tetesan yang disukai RasuluLlah SallaLlaahu
Alayhi Wasallam adalah air mata yang mengalir karena
rasa takut dan rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau, yang terjaga dari dosa bahkan selalu
menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa
dengan-Nya.
Seorang mujahid serta mujaddid yang pernah hidup di
dunia ini, Hasan al Banna, juga menguraikan air
matanya karena memikirkan ummat.
Betapa keinginannya agar ummat mengetahui bahwa mereka
lebih dicintai daripada dirinya sendiri. Hingga ia
pernah berkata, "Sesaat pun kami tak akan pernah
menjadi musuh kalian."
Betapa bangganya Sang Imam ketika jiwa-jiwa ini gugur
sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga
bagi teg aknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya
cita-cita Islam.
Rasa cinta itu mengharu-biru hati, menguasai perasaan
bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga
membuat beliau memeras air matanya. Air bening itu
lalu mengalir karena menyaksikan bencana yang
mencabik-cabik ummat ini. Sementara kita hanya sanggup
menyerah pada kehinaan serta pasrah pada
ketidakberdayaan.
Dan...
Apa yang terjadi pada diri ini?
Takkala lahir menangis, namun orang-orang tercinta
tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita.
Namun, mereka pun menangis pilu saat kita tutup usia.
Saat diri akan beranjak pergi, apakah kita juga turut
menangis ataukah mengulas senyum bahagia karena akan
berjumpa dengan-Nya?
Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita
lakukan selama hidup di dunia fana?
Apakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati,
kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang
terdekat kita?
Lalu setelah itu hanya pasrah, rebah di bantalan
tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.
Duhai Sang Pemilik Jiwa...
Jadikanlah tetesan air yang jatuh dari sudut mata
adalah air mata berharga, hingga mampu membersihkan
hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu,
Ilahi Rabbi.
Dan, jangan Engkau jadikan air mata ini kelak berubah
menjadi tetesan darah karena lelah berteriak, menangis
dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat.
Sungguh...
Bersimbah tetesan air mata di dunia fana adalah lebih
baik daripada genangan air mata bercampur darah saat
di akhirat nanti.
Menangislah sebelum datang hari dimana kita semua akan
ditangisi, karena saat itu pasti akan terjadi.
Telah tertutuplah pintu surga / Diketuk keras tak akan
terbuka / Walau pekik ingin memecah langit / Walau air
matanya berganti darah
Ya Allah, yang manusia harus takuti / Angkatlah kami
dari lembah maksiat / Sampai kami keluar dari dunia /
Tak bawa beban walau sebesar zarrah
[Lirik Nasyid: Air Mata dari Izzatul Islam]
Author: Abu Aufa
Menitik air mata, mengalir membasahi pipi. Jernih
bagaikan butiran embun pagi yang berkilauan diterpa
sinar mentari. Menghanyutkan rasa karena kedukaan,
hati pun menjadi lara akan kesedihan. Lalu mata
meluapkan derai tangisan, hingga tercipta nelangsa
yang luruh dalam kedukaan.
Air mata kadang bercerita akan indahnya kisah cinta
dan bahagia. Namun tak jarang tercurah dan hanyut
dalam sedu sedan penyesalan belaka. Karenanya, betapa
banyak untaian kisah yang tercipta dari tetesannya.
Air mata pun kadang menetes karena pelajaran akan
sebuah makna ketegaran jiwa.
Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki
dan tangan, darinya kita bisa belajar tentang makna
tegar dalam kehidupan. Ia mengisahkan dalam buku Gotan
Fumanzoku te ntang kesanggupannya menamatkan studi di
Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita
olahraga di televisi.
Ketegaran air mata pun pernah berkisah tentang Mitsuyo
Ohira dalam bukunya Dakara Anata mo Ikinuite. Ohira
san adalah seorang wanita yang menjadi sasaran
olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ia pernah
mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan
seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai,
namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan
kini menjadi pengacara.
Kisah-kisah itu menceritakan ketegaran yang menguras
air mata.
Air mata ibarat hujan yang jatuh dari langit pada
lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang.
Tetesannya melunakkan hati dan jiwa yang keras
membatu, lalu menciptakan rasa empati dan peka
terhadap ciptaan-Nya.
Kegersangan hati dan jiwa, serta qalbu yang merekah
karena berbagai nista perlahan pupus. Hanyut, bagaikan
debu-debu yang ter bawa arus oleh untaian do'a dalam
butir-butir air mata yang dimunajatkan kepada Sang
Pencipta.
Mahal...
Sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang
mengalir saat khusyuk menghadap-Nya. Hingga salah satu
dari dua tetesan yang disukai RasuluLlah SallaLlaahu
Alayhi Wasallam adalah air mata yang mengalir karena
rasa takut dan rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau, yang terjaga dari dosa bahkan selalu
menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa
dengan-Nya.
Seorang mujahid serta mujaddid yang pernah hidup di
dunia ini, Hasan al Banna, juga menguraikan air
matanya karena memikirkan ummat.
Betapa keinginannya agar ummat mengetahui bahwa mereka
lebih dicintai daripada dirinya sendiri. Hingga ia
pernah berkata, "Sesaat pun kami tak akan pernah
menjadi musuh kalian."
Betapa bangganya Sang Imam ketika jiwa-jiwa ini gugur
sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga
bagi teg aknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya
cita-cita Islam.
Rasa cinta itu mengharu-biru hati, menguasai perasaan
bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga
membuat beliau memeras air matanya. Air bening itu
lalu mengalir karena menyaksikan bencana yang
mencabik-cabik ummat ini. Sementara kita hanya sanggup
menyerah pada kehinaan serta pasrah pada
ketidakberdayaan.
Dan...
Apa yang terjadi pada diri ini?
Takkala lahir menangis, namun orang-orang tercinta
tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita.
Namun, mereka pun menangis pilu saat kita tutup usia.
Saat diri akan beranjak pergi, apakah kita juga turut
menangis ataukah mengulas senyum bahagia karena akan
berjumpa dengan-Nya?
Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita
lakukan selama hidup di dunia fana?
Apakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati,
kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang
terdekat kita?
Lalu setelah itu hanya pasrah, rebah di bantalan
tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.
Duhai Sang Pemilik Jiwa...
Jadikanlah tetesan air yang jatuh dari sudut mata
adalah air mata berharga, hingga mampu membersihkan
hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu,
Ilahi Rabbi.
Dan, jangan Engkau jadikan air mata ini kelak berubah
menjadi tetesan darah karena lelah berteriak, menangis
dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat.
Sungguh...
Bersimbah tetesan air mata di dunia fana adalah lebih
baik daripada genangan air mata bercampur darah saat
di akhirat nanti.
Menangislah sebelum datang hari dimana kita semua akan
ditangisi, karena saat itu pasti akan terjadi.
Telah tertutuplah pintu surga / Diketuk keras tak akan
terbuka / Walau pekik ingin memecah langit / Walau air
matanya berganti darah
Ya Allah, yang manusia harus takuti / Angkatlah kami
dari lembah maksiat / Sampai kami keluar dari dunia /
Tak bawa beban walau sebesar zarrah
[Lirik Nasyid: Air Mata dari Izzatul Islam]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar